Make your own free website on Tripod.com

WARTA SENI DAN BUDAYA

Senin, 26 April 1999

Jumenengan ke - 11 Mangkoenagoro IX, Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, Surakarta, 25 April 1999

Peringatan 11 tahun naik tahta (Pengetan Wiyosan Jumenengan Kaping 11) KGPAA Mangkoenagoro (MN) IX berlangsung pada hari Minggu 25 April 1999 secara khidmat. Pada peringatan tersebut dilantik 61 orang kerabat dan abdi dalem yang berlangsung pada Minggu pagi. Seluruh hadirin mengenakan pakaian kejawen. Bersamaan dengan itu Kanjeng Bendoro Raden Ayu (KBRAy) Mangkoenagoro IX juga dilantik menjadi Gusti Kanjeng Putri (GKP) Mangkoenagoro IX.

Diantara kerabat dan abdi dalem yang dilantik terdapat beberapa nama seperti Bustanil Arifin (mendapat gelar Kanjeng Pangeran Haryo - KPH), Drs. H. Herman Sarens Sudiro (Kanjeng Raden Tumenggung Haryo - KRTH). Raden Ayu (Ray) Angling Kusuma menjadi KRAy, Drs. Suyatno Kartodirjo (Dekan Fakultas Sastra UNS) mendapat gelar KRT.

Pada peringatan tersebut dipentaskan tarian Bedaya Anglir Mendung yang terakhir dipentaskan sepuluh tahun yang lalu. Tarian tersebut dipentaskan atas inisiatif KGPAA Mangkoenagoro IX sendiri sebagai refleksi situasi zaman.

(sumber: Solopos, Senin Legi 26 April 1999)

 

Pentas Seni untuk amal Perhimpunan Pers Mahasiswa Yogyakarta (PPMY), Purna Budaya, Yogyakarta, 24 April 1999

Acara pentas seni ini diselenggarakan oleh PPMY dan didukung oleh SKH Kedaulatan Rakyat dan rencananya akan diisi oleh dramawan Putu Wijaya (membawakan "Ngeh"), Ratna Sarumpaet (membawakan sepenggal monolog "Marsinah Menggugat"), Butet Kartaredjasa, Sanggar Tari Natya Lakshita pimpinan Didik Nini Thowok dan lain-lain . Tetapi Putu dan Ratna tidak bisa tampil karena beberapa halangan. Butet Kartaredjasa yang tampil memukau pada acara tersebut membawakan cerpen "Karla" karya Seno Gumira Ajidarma. Hasil dari pentas amal ini akan disumbangkan untuk korban tragedi Ambon.

Selain Butet malam itu tampil pula, Sanggar Tari Natya Lakshita pimpinan Didik Nini Thowok membawakan tari "Raka Sukria" dengan penari Hendrit, Gita, Tri Suratmi, Tri Yuli, Ninik Kastini. Ikut menyemarakkan Si Bhe bersama Kelompok Sastra Pendapa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (KSP-UST) dengan kolaborasi musik, serta Bambang Susilo membawakan cerpen "Karno". Pantomimer Jemek Supardi membawakan pantomim dengan eksplorasi gerak begitu lentur.

(sumber: Kedaulatan Rakyat 26 April 1999)

 

Pameran foto Free di Purna Budaya, Yogyakarta, 24 - 30 April 1999

Pameran fotografi bertitel Free digelar oleh Kelompok Kait yang beranggotakan mahasiswa Akindo (Akademi Komunikasi Indonesia) Yogyakarta di Gedung Purna Budaya Yogyakarta.

Pameran ini dibuka Sabtu 24 April 1999 dan menyajikan karya fotografi yang menekankan pada kekuatan grafis-grafis sebagai elemen utama pameran itu atau foto yang memiliki citra grafis pictorial dengan bahasa visual estetis dan memiliki kedalaman makna. Konsep tentang estetika atau keindahan pictorial dalam Free menurut panitia penyelenggara adalah bahwa keindahan sejati bukan terletak pada apa yang dilihat melainkan yang dipahami serta dirasakan dari apa yang terlihat.

Kelompok Kait memamerkan karya foto yang ekspresif dengan konsep fotografi sebagai karya seni, atau foto yang tidak sekedar merekam realitas dalam pengaalan waktu, tetapi memasukkan nilai subyektivitas ke dalam karya foto.

Free yang diselenggarakan hingga Jumat (30 April 1999) itu dibuka oleh Direktur Akindo, Dr. Bambang Setiawan dan dibuka setiap hari mulai pukul 09.00 - 14.00 WIB dan 16.00 - 21.00 WIB. Sebanyak 40 foto hitam putih dan 15 foto berwarna disuguhkan dalam pameran ini. Sebanyak 25 fotografer yang turut menggelar karyanya adalah mahasiswa Akindo yang masih aktif.

(sumber: Solopos, Senin Legi 26 April 1999)

 

Solo alami krisis kebudayaan

Budayawan Dr. Koentowijoyo, punya cacatan tersendiri terhadap kota Solo, Jateng. Daerah yang memiliki predikat sebagai "Kota Budaya" ini, menurutnya, kini justru mengalami "bencana" yang ia sebut krisis kebudayaan.

Dosen Fakultas Sastra UGM Yogyakarta ini, memcatat krisis mulai melanda Kota Solo sejak permulaan Abad ke-20. Sejak itu, warga sini mengalami tiga krisi kebudayaan. Yakni, krisis kebudayaan berupa rasial, sosial,dan konflik politik.

Koento, memaparkan hal ini ketika berbicara dalam seminar bertema 'Revitalisasi dan Rekonsialasi Kota Solo; Wacana Arsitektur dan Seni Budaya PAsca Kerusuhan' di Istana MAngkunegaran, Sabtu (24/4)pekan lalu. Kegiatan ini diselenggarakan PWS (PAguyuban Wong Solo), IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), IALI, Solo Heritage Sociaty, Panitia Indonesia 2000.

Indikasi krisis kebudayaan mulai melandaKota Solo, menurut Koento berupa konflik rasial. Ini terjadi menjelang terbentuknya organisasi SI (Serikat Islam) tahun 1911. Semula, Solo merupakan kota multirasial yang begitu rukun. NAmun, kemudian kondisi kesimbangan waktu itu terganggu lantaran perkembangan dunia bisnis.

Sedang indikasi krisis kebudayaan berupa konflik sosial, terjadi dalam revolusi kamerdekaan. "Waktu itu, ada usaha gerakan untuk menghapus apa yang disebut sebagai stratifikasi sosial. Yakni, antara kelompok kaum priyayi dan wong cilik, " ujar Koento dalm makalah yang dibacakan istrinya, Dra. Sualaningsih, MA.

Koento, memang hadir di tengah seminar itu. LAntaran ia mengalami gangguan bicara----setelah sakit stroke beberapa tahun yang lalu-----istrinya, budayawan yang berpikiran cemerlang inipun, mampu menjawab pertanyaan dalam dialog yang berlangsung seru. Prof. Dr. Umar Khayam, mantan Menpen Mashuri SH, REktor Undip Semarang Prof Ir. Eko Budiharjo M Sc, Suhadi HAdiwinoto dari Word Bank, juga tampil sebagai pembicara.

Masih menurut Koento, indikasi krisis kebudayaan berupa konflik politik pecah pada pertengahan Mei 1998 lalu. Yakni, kerusuhan massa sebagai puncak aksi untuk menumbangkan pemerintahan Orde BAru. Kemudian, diikuti dengan lengger-nya Soeharto dari kursi kekuasaan. Kerusuhan massa waktu itu, menelan banyak korban. BAik jiwa maupuan materi, termasuk rusaknya bangunan maupun fasilitas umum.

Krisis kebudayaan yang melanda Kota Solo, banyak mengundang kegerahan beberapa kalangan. Tak kurang Pengageng Istana MAngkunegaran, KGPAA Mangkunegoro IX. Kini, ia prihatin dengan kondisi lingkungan sekitar. HAmpir semua tanam di ruang publik di sini, hilang. Kondisi Solo sekarang sudah nglungsungi (berubah kulit permukaan-red). Tempat-tempat itu, sekarang "dijarah". Kemudian, dijadikan ajang mendatangkan uang.

Hilangnya ruang publik, menurut Gusti Mangku - panggilan akrab KGPAA Mangkunegoro IX di dalam tembok istana - bukan disebabkan oleh ulah manusia semata. Tapi, juga disebabkan oleh keadaan. " Keadaan yang salah," katanya. Atau sebagian orang sekarang sudah atau memang tidak tahu akan tata nilai. Mungkin juga, sebagai cara untuk melepas tangung jawab akan  kelestarian situs yang bernilai budaya.

Gusti MAngku mengakui, pendahulu Puro Mangkunegaran mampu dan mau membangun pelbagai fasilitas publik. Karena, mungkin penguasa waktu itu punya duit. Sekarang? "Jangankan membuat, merawat saja tidak mampu," katanya. Bisa jadi pula, generasi manusia sekarang tidak searif pendahulu.

Ir. Rudi Subanindro, wakil dari Kraton Kasunanan juga mengakui kondisi rusaknya lingkungan budaya Solo. Kini, banyak aset warisan arsitektur keraton bernilai budaya tinggi, terbengkalai. Malah, banyak yang "hilang". Sejumlah arsitektur kuno digusur. Kemudian, diganti bangunan bernuansa aroma yang katanya, modern. " Seyogyanya, bangunan kuno itu dilestarikan. Bila perlu dipertahankan sampai kapanpun."

(sumber: Republika, Senin 26 April 1999)

bricks

| Contact | Webmaster |

Kerjasama antara DEPARTEMEN PARIWISATA, SENI DAN BUDAYA Republik Indonesia, dengan PT. ASANA WIRASTA SETIA, Jakarta

Institusi Pendukung: InCoDE, Yogyakarta

1999