Make your own free website on Tripod.com

WARTA SENI DAN BUDAYA

Rabu, 2 April 1999

Kerajinan Dengan Sentuhan Seni

Perajin Drs. P. Tonny Sulistiono, sarjana interior ISI Yogyakarta, mampu menciptakan berbagai kerajinan berupa kap lampu kayu Kayu Pakis, tempat tisu, sendok, lilin dengan sumbu sepanjagn 50-100 cm, vas bunga, asbak dan sebagainya. Hasil kreasi kerajinan tersebut sudah mampu menembus pasar di berbagai kota besar seperti Jakarta. Bahkan juga beberapa pengusaha artshop dan mebel sudah membelinya sebagai sampel ke mancanegara seperti Kanada, Belanda, Thailand dan Perancis. "Kini ada sebuah toko di Yogyakarta pesan 20 tempat tisu bundar. Ada yang dari Perancis dan m inta sampel tempat tisu dalam bentuk kotak yang terbuat dari tripleks dilapis anyaman mendong," cerita Tonny yang belum lama berdua dengan isterinya Yohanda Sundari lewat karya Kap Lampu Kayu Pakis dan Tempat Tisu menggondol Juara I dan II lomba desain kerajinan di Aula Kedaulatan Rakyat yang diselenggarakan Dinas Perindustrian D.I. Yogyakarta dan SKH Kedaulatan Rakyat pada bulan Februari lalu.

Sebagai kreator dalam menggarap hasil kerajinan, meski dengan bahan sederhana selalu mengutamakan nilai artistik. Sebab hasil produk kerajinan dengan sentuhan nilai seni yang dipasarkan keluar negeri diminati. "Kebetulan order dari luar kota dan luar negeri lewat para pengusaha artshop kini mulai mengalir. Sedang order pesanan baru tahap sampel dan langsung banyak. Yang jelas, dengan sampel dari berbagai negara itu, ibarat seorang petani menebar benih. Kemungkinan jika nanti dinilai karyanya bagus dan mempunyai prospek pasti akan memberi order banyak," harap Tonny yang beralamat di Giwangan UH VII/57, RT 07, RW III, Umbulharjo Yogyakarta.

Dalam mencipta kerajinan, katanya, yang diutamakan kualitas dan desain yang mempunyai nilai artistik. Karena kerajinan yang pasarkan di mancanegara harus bagus dan bukan asal jadi tanpa memiliki nilai artistik. "Sebab, orang luar negeri sangat jeli dan teliti jika membeli produk kerajinan. Seperti pesanan orang Jepang, tempat tisu kotak yang dilapis anyaman mendhong pokoknya tidak mau menggunakan paku dan besi." cerita Tonny.

(Sumber : KR Rabu Pon 28 April 1999)

 

Gelar Pentas Seni di Dusun Tutup Ngisor Magelang Selama 3 Hari

Padepokan Cipto Budoyo Dusun Tutup Ngisor, Sumber, Magelang akan mengadakan pentas seni pertunjukan, Rabu-Jumat (28 - 30/4). Ketua Padepokan Cipto Budoyo, Sutras Anjilin mengatakan, pentas ini diselenggarakan sebagai tradisi yang selam aini telah diadakan.

"Kami selalu menandai peristiwa itu dengan berbagai materi seni. Apalagi Dusun Tutup Ngisor dijuluki susun seni."

Secara rinci Sutras menyebutkan, materi seni pertunjukan yaitu Rabu (28/4), pemasangan tarub di Padepokan Cipto Budoyo, malamnya diperdengarkan uyon-uyon di makam Eyang Yoso di dusun tersebut, Kamis (29/4), pukul 11.00, pembacaan Surat Yassin, selamatan, tirakatan serta Tari Kembar Mayang.

Jumat (30/4), kirab Jathilan mengelilingi Desa Tutup Ngisor, workshop seni tari, pentas musik dan tari, pentas tari Gambyong. Selain itu, pentas Tari Gatotkaca Sekar, pentas Tari Ngremo, pentas Wayang Orang lakon "Mbangun Candi Sapto Argo" di panggung Cipto Budoyo.

(sumber: KR Rabu Pon 28 April 1999)

 

Melongok rumah bersejarah di Kotagede (2) - Menjadi Tempat Persinggahan Peneliti Asing

Rumah joglo milik Drs. Kharis Zubair SU di Kotagede itu memang memiliki arti penting. Bukan saja bagi dunia arsitektur Jawa - semacam menjadi laboratorium rumah khas Jawa (joglo) yang masih tersisa saat ini, tetapi juga nilai penting bagi masyarakat sekitar. Setiap tahun di halamam rumah tersebut digunakan untuk menyembelih hewan korban dan membagi dagingnya kepada masyarakat yang membutuhkan di Hari Raya Idul Adha dan membagi beras fitrah di Hari Raya Idul Fitri.

Pendapa rumah itu juga sering dipakai untuk pertemuan-pertemuan apa saja, diskusi tentang kebudayaan, diskusi sosial, bahkan pertunjukan kesenian kampung setempat. Bahkan pada tahun 1970-an disana sering dilakukan pembacaan puisi oleh Persada Studi Klub dibawah pimpinan Umbu Landu Paranggi.

Untuk saat sekarang rumah tersebut juga menjadi tempat kontak dari Pusat Studi Dokumentasi dan Pengembangan Budaya Kotagede (Pusdok), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang dipimpin oleh Achmad Charris Zubair. Tak heran jika rumah tersebut seringkali didatangi tamu yang bermaksud mencari informasi tentang Kotagede, bahkan beberapa diantaranya berasal dari luar negeri.

Tamu-tamu asing itu sempat pula menginap di rumah itu. Misalnya Mitzuo Nakamura, antropolog Jepang ketika melakukan penelitian tentang kehidupan masyarakat Kotagede selama bertahun-tahun, juga singgah ditempat itu.

Oleh keluarga besar Zubair Muchsin, rumah tersebut disepakati bukan milik siapa-siapa, tetapi menjadi sebuah simbol dari kebersamaan dan kecintaan keluarga. Rumah tempat "pulan", rumah tempat reuni keluarga, rumah tempat untuk melampiaskan kangen, sebuah tempat untuk mengenang masa-masa lalu yang barangkali dapat diambil hikmahnya untuk meneliti masa depan.

"oleh karena itu sudah disepakati untuk tidak mengubah total rumah tersebut, atau melakukan tindakan apa saja yang mengubah citra kebersamaan tersebut," kata dia.

Mengapa Kharis begitu antusias melestarikan bangunan khas Jawa itu? Dosen Filsafat yang sdang menyelesaikan gelar doktor di UGM itu menjelaskan bangunan tradisional joglo tidak sembarang diciptakan. Namun didasari oleh kosmologis tertentu. "Wajah joglo itu sangat unik dan sederhana, tetapi memiliki kelebihan tersendiri, yaitu harmonis, transenden. Ada jiwa yang bisa kita kembangkan didalam bangunan joglo," tandasnya.

Menurut dia, bangunan itu memiliki kelebihan tertentu. Misalnya bangunan sangat kuat dan tahan gempa mseki tanpa paku. Karena kayu yang digunakannya memang pilihan yaitu jati kelas satu. Konstruksi bangunan yang antartiannya saling berhubungan dan menyangga, baik horisontal maupun vertikal membuat bangunan ini tak mudah roboh. "Disamping itu kelebihan lain adalah sepanas apapun udara di lua, namun kalau ada didalam joglo terasa dingin."

Filosofi yang digunakan putra Kotagede tersebut, "Hidup dengan norma tradisi. Manusia hidup itu tak bisa lepad dari sejarah mengingat tradisi itu sudah teruji mampu memberikan nilai tersendiri dalam membina keluarga untuk mengembangkan hidupnya,"

(Penulis: Yuliantoro)

(sumber Solopos Rabu Pon 28 April 1999)

 

Hadir di Solo, FIDK Yayasan Pinilih

Tak bisa dipungkiri bahwa Solo merupakan gudangnya kelompok kesenian. Setiap hari terjadi berbagai peristiwa kesenian di Kota Bengawan ini.

Sementara itu eksplorasi tiada henti yang dilakukan seniman-seniman Solo membuat banyak pihak menilai perkembangan berbagai cabang kesenian di Solo selangkah lebih maju dibandingkan kota lain di sekitarnya.

Perkembangan yang menggejala akhir-akhir ini dengan semakin banyaknya seniman yang menggelar pertunjukan di kampung-kampung menunjukkan niat baik betapa para seniman ingin mendekatkan seni kepada publiknya.

Hanya sayang, perkembangan itu belum didukung informasi dan dokumentasi yang memadai. Kenyataan tersebut ditangkap oleh sekelompok pekerja seni yang memiliki komitmen untuk menggencarkan informasi mengenai kesenian bagi masyarakat.

Mereka adalah Deddy Luthan, Elly Luthan, Dwi Tjahjono, Pratiwi Wiluyanti, Putut H Pramana, Rustopo, S. Pamardi, Harisinthu, Mushus BR, Slamat Thukul dan Hali HD. Para pekerja seni tersebut sepakat membentuk Forum Informasi dan Dokumentasi Kebudayaan (FIDK) Yayasan Pinilih.

Peresmian dilaksanakan Kamis (22/4) malam lalu disebuah bangunan yang terletak di Jalan Semeru Barat Utama 23 Solo, yang kemudian dijadikan kantor yayasan.

Kegiatan peresmian itu ditandai acara potong tumpeng dan dihadiri sejumlah seniman Solo termasuk komponis yang menjabat Ketua STSI Solo, Dr. Rahayu Supanggah dan penyair yang menjabat Kepala Taman Budaya Surakarta, Drs. Murtidjono.

"Tujuan kami tidak terlalu muluk-muluk, hanya ingin memberikan informasi yang mudah dicerna agar masyarakat tertarik akan kesenian," kata Ketua Yayasan Pinilih, Deddy Luthan.

Pembantu Dekan II Institut Kesenian Jakarta yang juga seorang koreografer handal ini menambahkan selama ini telah banyak informasi tentang dunia kesenian namun biasanya ditampilkan dengan gaya yang "berat".

"Kami akan mencoba memberikan informasi dengan bahasa yang sedemikian ruap yang tidak membuat orang mengerutkan kening tetapi berminat untuk melihat," kata dia.

Sedangkan Wakil Ketua Yayasan ini Hali HD, menyayangkan ditengah terjadinya booming media massa tidak ada yang memberi prosi yang cukup mengenai informasi kesenian.

Halim yang kelak akan mengenai aspek operasional mengungkapkan Yayasan Pinilih akan mencoba memformat publikasi yang sederhana namun tepat sasaran. "Kami akan membuat pamflet yang diedarkan di bandara dan hotel-hotel, mengirimkan poster pertunjukan keluar Solo dan membuat dokumentasi audio visual mengenai peristiwa-peristiwa kesenian."

Yayasan Pinilih, lanjut Halim juga akan menjalin hubungan dengan media massa serta membuka kontak personal dengan kalangan kampus, hotel dan wilayah lain agar turut berpartisipasi.

"Tidak menutup kemungkinan kami juga akan menggelar workshop dan festival kesenian."

Dipilihnya bentuk yayasan, kata Halim tidak ada pretensi apapun melainkan adanya keinginan menciptakan mekanisme kerja yang lebih sistematis, terarah dan memiliki jangkauan luas. Yayasan Pinilih dalam waktu dekat akan menangani kegiatan tahunan Indonesian Dance Festival (IDF). Penyelenggaraan kegiatan tahunan ini sebelumnya ditangani Dewan Kesenian Jakarta.

(sumber: Solopos, Rabu Pon, 28 April 1999)

 

Keraton Surakarta Membuka Diri

Kabar gembira bagi kaum seniman, budayawan, maupun kalangan akademik di tanah air. Kini, Keraton Kasunanan Surakarta, Jateng membuka pintu lebar untuk kegiatan penelitian, pengkajian dan pengembangan khasanah seni budaya.

Sebagai pembuka awal pintu ketrbukaan ini, keraton menjalin kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi. Kerjasama dengan STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Solo dalam bidang seni tari, Undip Semarang bidang arsitektur, UNS Solo (bidang sastra), UGM Yogyakarta (pengkajian sejarah dan kawasan lingkungan), UMS bidang ilmu pengetahuan agama (Islam)., serta lembaga Stupa (Studi Pariwisata) bidang industri kepariwisataan.

Keraton tak bisa tinggal diam, dalam memasuki milenium kedua. Wajah keraton pun musti di 'make-up'. "Diharapkan, keraton nanti jadi pusat cagar seni, budaya, sejarah dan ilmu pengetahun," kata Drs Dipo Kusumo, Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta kepada Republika, Selasa (27/4).

Fokus kerja sama dengan dunia perguruan tinggi, menurut Dipo, untuk meningkatkan museum yang ada di keraton. Termasuk juga perpustakaan --- Sasono Pustoko--- yang selama ini jadi sumber kegiatan penelitian ilmiah. Kegiatan dokumentasi juga ditingkatkan. Tak sebatas visual, dan milro film saja. Tapi, sudah dikembangkan ke audio visual.

Arsitek keraton, kini tengah dibukukan secara ilmiah. Selasan arsitek Undip Semarang sedang mengadakan kegiatan ilmiah penelitian tentang tata ruang, estetika bangunan, filosofi bangunan istana. Mulai dari ruang penyimpanan pusaka, meditasi, administrasi dan perkantoran, sampai tempat tinggal raja maupun pangeran dalem.

Menurut Dipo, bangunan fisik, benda atau atribut yang disandang, sampai kegiatan ritual keagamaan, akan ditulis dalam sebuah buku. Ini, dilakukan setelah rampung kegiatan penelitian.

Meski keraton bersikap terbuka, lanjut Dipo, masih tetap ada sekat-sekat pembatas. Misalnya, ada tempat-tempat tertentu yang bersifat privasi tak bisa disentuh. Atau hal yang bersifat untuk menjaga keamanan. Misalnya, untuk menjaga keamanan pusaka keraton.

Kalau kerjasama tersebut membuahkan hasil, orang yang masuk ke keraton mempunyai banyak pilihan. Hanya sekadar berkunjung, atau mengadakan penelitian dan pengembangan seni, budaya dan pengetahuan. Pengunjung juga bisa belajar membatik, sastra Jawa, menari, meneliti arsitek keraton. Semua fasilitas yang dibutuhkan tersedia disana. "Orang mau belajar dalang, sudah tersedia buku dan guru dalangnya," tambah Dipo.

(sumber : Republika, Rabu 28 April 1999)

bricks

| Contact | Webmaster |

Kerjasama antara DEPARTEMEN PARIWISATA, SENI DAN BUDAYA Republik Indonesia, dengan PT. ASANA WIRASTA SETIA, Jakarta

Institusi Pendukung: InCoDE, Yogyakarta

1999